Meriahnya Tradisi Lebaran di Yogyakarta

Lebaran telah tiba dan setiap daerah pasti masing-masing mempunyai tradisi unik dan meriah dalam menyambut hari raya umat Islam ini. Demikian juga dengan kota Yogyakarta, sebagai salah satu daerah istimewa di Indonesia, Yogyakarta pun memiliki tradisi Lebaran yang masih rutin dilaksanakan hingga kini. Kali ini Semberani Rent Jogja akan membahas 2 tradisi Lebaran yang dilakukan Keraton Yogyakarta.

Tradisi Grebeg Syawal

Tradisi Lebaran di Yogyakarta

Grebeg Syawal adalah upacara adat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang diselenggarakan tiap 1 Syawal penanggalan Hijriyah, atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Upacara ini biasanya dilangsungkan di sekitar Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta seusai dilaksanakannya sholat Idul Fitri.

Tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini tujuannya sebagai perwujudan Hajad Dalem atau sedekah Sultan kepada rakyatnya. Ini disimbolisasikan dengan Gunungan Lanang, sesaji yang ditata mengerucut, persis seperti tumpeng yang berisi beragam sayuran dan hasil bumi. Saat keluar dari Pagelaran, prajurit Keraton memberikan tembakan salvo sebagai penghormatan sebanyak tiga kali.

Gunungan diarak oleh abdi dalem Keraton dari Bangsal Keraton menuju Masjid Agung (Gede) Kauman.Di masjid ini Gunungan akan didoakan oleh penghulu di serambi masjid. Ada momen unik saat Gunungan ini didoakan, sebelum selesai didoakan Gunungan sudah diserbu masyarakat untuk diambil sebagian dan dibawa pulang sebagai tanda keberuntungan. Meski sudah diperingatkan, biasanya masyarakat tetap saja mengerubuti Gunungan.Total Gunungan yang ada di acara ini ada 7 buah. Diantaranya adalah 3 Gunungan Lanang, 1 Gunungan Wadon, 1 Gunungan Gepak, 1 Gunungan Darat, dan 1 Gunungan Pawuhan.

Ratusan warga mengerubungi gunungan-gunungan ini untuk mengambil sedikit hasil bumi yang ada di sana. Inilah yang disebut sebagai ngalap berkah. Masyarakat percaya bahwa segala sesuatu yang ada di Gunungan tersebut bisa membawa berkah sehingga bisa mendapatkan sedikit saja dari sana sudah puas. Tentu saja tradisi ini selalu menarik perhatian baik turis lokal maupun asing.

Tradisi Ngabekten

Tradisi Lebaran Ngabekten

Kalau dilihat dari asal katanya, Ngabekten berasal dari kata bekti (bahasa Jawa) yang artinya berbakti atau tingkah laku seseorang untuk memberi hormat kepada orang tua atau yang dituakan juga orang yang dihormati.Tradisi ini masih berlangsung di rumah-rumah keluarga Jawa, termasuk di Keraton Yogyakarta. Tradisi ini diselenggarakan oleh Keraton setiap hari raya Idul Fitri. Untuk hari pertama dikhususkan bagi kerabat dan abdi dalem laki-laki dan untuk hari kedua diperuntukkan bagi kerabat dan abdi dalem perempuan.

Maksud dari penyelenggaraan tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada Sri Sultan sebagai junjungan mereka, yang telah memberi rezeki dan pengayoman selama mereka megabdi di Keraton, juga dimaksudkan untuk meminta maaf kepada junjungannya atas segala kesalahan. Selain itu untuk memohon doa restu orang tua supaya tidak mendapat halangan dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

Seiring waktu,tradisi Ngabekten di Keraton mengalami perubahan. Pada zaman dahulu tradisi Ngabekten pernah diadakan selama satu minggu berturut-turut,kemudian menjadi tiga hari berturut-turut dan terakhir, sampai saat ini hanya diadakan selama dua hari berturut-turut, yaitu pada bulan Syawal tepatnya tanggal 1 dan 2 Syawal. Dalam pelaksanaan tradisi Ngabekten, waktunya dibagi menjadi beberapa kelompok.

Kurang lebih satu bulan sebelum pelaksanaan, Kawedanan Hageng Sriwandawa Keraton Yogyakarta mengeluarkan buku berjudul “Pranatan Pasowanan/Parakan Ngabekten” yang berisi peraturan Ngabekten pada bulan Syawal. Buku tersebut dibuat setiap tahunnya dan disebarluaskan sebagai buku panduan pelaksanaan Ngabekten.

Urutan duduk dalam tradisi Ngabekten juga sudah diatur. Urutan duduk dimulai dari kerabat paling dekat dengan Sultan. Busana yang digunakan dalam tradisi Ngabekten sudah ada aturannya, baik untuk laki-laki maupun wanita. Ketika pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, semua berpakaian kebesaran, misalnya untuk laki-laki mengenakan kain kampuh, bercelana panjang putih, berkuluk biru, tidak berbaju, dan tidak bersandal.

Setelah zaman Jepang, dalam pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pakaian kebesaran tidak digunakan lagi. Hanya berpakaian biasa tetapi harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya menggunakan kebaya warna warni tetapi tidak menggunakan kuthubaru, ada yang mengenakan pranakan, atela, dan lain-lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Demikian 2 tradisi yang dilakukan oleh Keraton untuk rakyatnya. Jika Anda kebetulan mengunjungi kota Jogja saat Idul Fitri tahun depan, jangan lewatkan kesempatan langka yang hanya ada setahun sekali ini. Jangan khawatir soal transportasi, ada rental mobil yang cukup terjangkau harganya yang dapat Anda hubungi, yaitu Semberani Rental Mobil Jogja yang akan membawa Anda menyaksikan tradisi unik ini. Dengan pelayanan dan fasilitas terbaik serta sopir yang berpengalaman, Anda dapat mengunjungi beberapa obyek wisata lainnya selain Keraton.


TERKAIT DENGAN RENTAL MOBIL JOGJA
rental mobil jogja, rental mobil jogja murah, rental mobil jogja lepas kunci, rental mobil jogja tanpa sopir, rental mobil jogja 24 jam, rental mobil jogja luar kota

RENTAL MOBIL DI SEKITAR LOKASI POPULER
rental mobil jogja, rental mobil jogja luar kota, rental mobil jogja jalan kaliurang

PENCARIAN TERBANYAK YANG MENGARAH KE HALAMAN INI
rental mobil jogja, rental mobil jogja murah, rental mobil jogja lepas kunci, rental mobil jogja tanpa sopir, rental mobil jogja 24 jam